Tulisan ini jujur saya katakan bukan karya otentik saya, melainkan mengutip dari salah satu sub bab pada buku KH. Moh. Tolchah Mansoer Biografi Profesor NU Yang Terlupakan
Sosok Ideal
Kaum Santri Masa Kini
Oleh: Drs. H.
Arief Mudatsir Mandan, M.Si.*
Dewasa ini
dunia pesantren dihadapkan pada tantangan yang cukup berat mengenai orientasi
dan visi pendidikannya. Di satu sisi pesantren dituntut mempertahankan tradisi
dan identitas kulturalnya sebagai lembaga pendalaman ilmu-ilmu agama dan
pembinaan moral. Sementata di sisi lain, di kalangan masyarakat sudah sangat
kuat arus yang berorientasi pada sekolah-sekolah umum sebagai upaya untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks. Persoalan ini tidak hanya
menyangkut tuntutan orientasi pragmatisme di dunia pendidikan, tetapi juga
menyentuh wilayah epistemologis tentang dikotomi antara ilmu pengetahuan agama
dan umum.
Idealnya,
pesantren memang harus mampu menyediakan kebutuhan pendidikan masyarakat baik
bidang agama, umum, maupun pembinaan moral sekaligus. Sebab, misi awal
pesantren adalah untuk dakwah, pendidikan, pengembangan sosial dan ekonomi, serta memelihara tradisi. Akan tetapi, dalam prakteknya
tuntutan itu tidaklah mudah untuk diwujudkan. Di samping terkait dengan
keterbatasan sarana dan prasarana, hal ini juga menyangkut beratnya beban
kurikulum dan keterbatasan kemampuan daya serap santri untuk menguasai semua
materi pelajaran. Artinya, tidak banyak kalangan santri yang bisa berhasil
menguasai kitab-kitab kuning –sebagai cerminan penguasaan ilmu-ilmu agama– yang
sekaligus juga sukses di bidang pendidikan umum.
Dalam konteks di atas, saya menggambarkan sosok KH. M. Tolchah Mansoer
sebagai cerminan ideal kaum santri masa kini. Dia sangat mumpuni dalam
penguasaan kitab-kitab kuning sekaligus juga mempunyai karir akademik yang
cemerlang di bidang pengetahuan umum. Karir akademik dia di perguruan tinggi di
tempuh di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta sampai mendapat gelar doktor
di bidang Hukum Tata Negara. Sementara itu, karya-karyanya di bidang fiqh
dan ushul fiqh cukup membuktikan penguasaan dia di bidang pengetahuan
agama, termasuk terjemahannya terhadap kitab ushul fiqh karya seorang
ulama Mesir, Abdul Wahab Khallaf, yang cukup terkenal dan banyak digunakan di
kampus-kampus IAIN dan kalangan pesantren.
Secara pribadi, ketika kuliah di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga
Yogyakarta, saya tidak hanya membaca karya-karya dia, tetapi juga secara
langsung ikut pengajian kitab kuning yang dia asuh di kediamannya, daerah
perumahan Colombo Yogyakarta. Memang terkesan aneh karena banyak sekali
mahasiswa dan civitas akademika IAIN yang identik sebagai pusat kajian
ilmu-ilmu keagamaan, justru mengaji kepada dia yang berlatar belakang akademik
pengetahuan umum dari UGM.
KH. M. Tolchah
Mansoer adalah sosok yang gigih belajar dan mengejar harapan masa depannya. Dia
memang menempuh jalur pendidikan umum untuk mewujudkan cita-citanya. Akan tetapi,
sebagai warga NU yang lahir dari kalangan pesantren, walaupun secara akademik
formal menempuh jalur pendidikan umum untuk menentukan orientasi masa depannya,
KH. M. Tolchcah Mansoer tetap mempelajari secara gigih dan otodidak ilmu-ilmu
keislaman sehingga dia sangat mendalami dan menjadi rujukan kalangan luas di
bidang ini. Semangat seperti ini perlu diteladani oleh generasi NU berikutnya,
bahwa walaupun secara akademik formal berkarir di bidang pengetahuan umum bukan
berarti seseorang boleh abai dan tidak mempelajari ilmu-ilmu agama. Sebab,
dengan cara ini, orang itu berarti telah ikut memelihara dan mendakwahkan Islam,
memperkuat bangunan tradisi, dan menanamkan nilai-nilai moral agama pada
masyarakat.
Mengamati,
membaca karya-karyanya, dan pengalaman berinteraksi (mengaji) dengan dia, saya
berangan-angan bahwa ke depan dari kalangan NU dan pesantren harus banyak lahir
sosok seperti dia; sosok yang menguasai kitab kuning, karir akademiknya juga
cemerlang di bidang pengetahuan umum, sangat kuat berpegang pada tradisi NU dan
pesantren, serta sosok pemimpin dan organisator yang mumpuni. Pada masa
mudanya, dia berhasil memimpin IPNU selama tiga periode berturut-turut, dan
selanjutnya selalu terlibat dalam kepengurusan NU baik di daerah maupun di
tingkat pusat (PBNU).
Sebagai akademisi
yang menguasai ilmu-ilmu umum dan keislaman, KH. M. Tolchah Mansoer mampu menganalisis
dan memadukan ilmu agama sesuai dengan disiplin ilmu yang dikaji. Sebagai contoh,
dia mampu mengkaji dan membuat garis relevansi antara prinsip-prinsip hukum Islam dan hukum ketatanegaraan modern. Sementara sebagai intelektual, ia
mempunyai komitmen kuat untuk menerapkan ilmu yang dimilikinya agar senantiasa
berpihak kepada kepentingan masyarakat dan nilai-nilai kebenaran yang diyakini.
Lebih dari itu, dia tidak hanya dikenal sebagai intelektual dan pemimpin
organisasi, tetapi juga dikenang sebagai ulama kharismatik, penuh kebijaksanaan
dan kearifan dalam menyikapi dan menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi.
Figur KH. M. Tolchah Mansoer sejatinya memberi inspirasi pada generasi NU
dan pesantren untuk menata dan menyiapkan kader-kader yang mumpuni secara
keilmuan serta memiliki kepemimpinan dan komitmen yang kuat pada tradisi dan
nilai-nilai moral. Oleh karena itu, pesantren harus segera berbenah diri,
terutama mencari terobosan-terobosan baru tentang sistem pendidikan yang tepat
untuk memenuhi tuntutan perkembangan masyarakat. Sebab jika tidak, pesantren sebagai
pusat lembaga pendidikan NU akan sulit berkompetisi dengan lembaga pendidikan
lain. Akibatnya, anak-anak NU akan mencari lembaga pendidikan berkualitas di
luar lingkungan NU sehingga kelak mereka bisa tercerabut dari akar dan
identitas kulturalnya. Situasi semacam ini akan menghambat proses regenerasi
dan reproduksi kader-kader NU baik secara sosial maupun kepemimpinan.
Harus kita sadari bahwa tantangan yang akan dihadapi NU ke depan akan semakin
berat. Sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia bahkan di
dunia, dengan basis kultural dan corak pemahaman keagamaan yang dimilikinya, NU
diharapkan dapat mengambil peran-peran kemasyarakatan, kebangsaan, dan
kenegaraan yang strategis. Tidak hanya itu, dengan potensi yang dimilikinya, NU
bahkan dapat mengambil peran penting di kancah internasional, baik menghadapi
pergolakan internal dunia Islam maupun hubungan dunia Islam yang semakin
konfrontatif dengan dunia Barat yang sering melahirkan perilaku kekerasan dan
antagonistik.
Pertama-tama yang harus dilakukan tentunya adalah penguatan di internal
masyarakat NU yang kebanyakan masih terbelakang, terutama aspek ppemberdayaan
ekonomi dan pengembangan sumber daya manusia atau bidang pendidikan. Oleh karena
itu, kalangan NU dan pesantren harus bisa mengubag visi dan orientasi
pendidikannya, bukan semata-mata berorientasi pada aspek memelihara agama dan
membina akhlak masyarakat, tetapi juga pendidikan umum agar bisa menjawab
kebutuhan masyarakat yang lebih luas. Dengan tingkat pendidikan yang memadai,
dengan sendirinya masyarakat NU akan mampu bersaing delam berakses pada
pekerjaan dan penghasilan yang memadai, dan pada gilirannya bisa mengambil
peran-peran kemasyarakatan dan kebangsaan yang lebih luas.
Yang lebih mendasar lagi adalah bahwa pesantren akan lebih bermakna
strategis jika bisa mendidik orang untuk memahami Islam sebagai rahmatan lil
‘alalmin, artinya Islam yang bisa memberikan jawaban terhadap apa-apa yang
menjadi kebutuhan masyarakat secara luas. Sebab, dunia ini berkembang dalam
kubangan-kubangan kebudayaan yang beragam tetapi bersamaan dengan itu juga
terjadi interaksi antar kelompok, antar kultur, antar subkultur dan antar
peradaban secara lebih luas. Pesantren harus berangkat dari kesadaran bahwa
perkembangan sosial, termasuk perkembangan umat Islam, tidaklah bersifat
tunggal, tetapi tergantung pada proses interaksi dalam lingkungan besarnya,
termasuk pada tataran global.
Pemahaman Islam sebagai rahmatan lil ‘alalmin artinya bisa
memberikan manfaat kepada seluruh umat manusia, baik di bidang sosial,
kebudayaan, maupun ekonomi. Keberadaan Islam tidak sekedar mengayomi dan sadar
bahwa bangsa ini berbeda-beda suku, agama dan budaya =, tetapi juga bisa
menjawab seluruh persoalan kepentingan alam semesta. Dalam konteks ini,
pesantren perlu memperluas muatan pendidikannya, dengan tetap mempertahankan
dan melanjutkan apa yang sudah dilakukan selama ini.
Untuk memperoleh energi transformasi, pesantren juga harus terbuka pada
informasi pengetahuan baru. Ke depan, pesantren harus membuka diri terhadap
informasi dan bacaan yang lebih luas. Pesantren memang harus tetap membangun
pengetahuan yang berakar pada tradisi miliknya, untuk memelihara identitas dan
akar kulturalnya. Akan tetapi, pesantren harus mau terbuka dan memperluas
muatan pendidikannya, mau mempelajari ilmu-ilmu lain sesuai dengan tuntutan
masyarakat. Sebab, ada kecenderungan orientasi pendidikan masyarakat NU mulai
bergeser ke sekolah-sekolah umum di luar karena pesantren tidak menyediakanny. Yang
lebih penting lagi, pesantren harus menjadi laboratorian bagi peranan sosial
para santri di masyarakat dalam wilayah pengabdian yang lebih luas sesuai
dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.
Oleh karena itu, NU sebagai jam’iyyah (organisasi) dituntut
mengambil peran penting dalam upaya membantu dan memfasilitasi pengembangan
pesantren sebagai pusat kultural dan pendidikan yang mewarnai identitas sosial
NU sebagai jama’ah. Hubungan yang strategis antara NU sebagai jam’iyyah
dan pesantren sebagai pusat pendidikan dan kultural ini diharapkan akan
menjadi kekuatan besar bagi upaya pengembangan masyarakat. Untuk menopang upaya
tersebut, diperlukan bangunan pengetahuan yang merupakan perpaduan antara
ilmu-ilmu agama sebagai etos teologis dan panduan moral, pengetahuan umum
sebagai instrumen praktis, dan pijakan tradisi sebagai identitas sosial. Dalam konteks
inilah sosok KH. M. Tolchah Mansoer menjadi relevan untuk diteladani. Kita
sebagai generasi NU wajib berterima kasih atas jasa-jasa dia. Semoga ilmu,
pengabdian dan tauladan yang dia berikan menjadi amal jariyag yang dapat mengantarkannya
memperoleh tempat yang mulia di sisi Allah Swt.
Jakarta, September 2008
* Wakil ketua komisi I DPR RI , Ketua DPP PPP, dan Ketua Yayasan Forum
Indonesia Satu (FIS)